Sepanjang tahun 2026, kabar tentang keberlanjutan (sustainability) tampak kontradiktif. Di satu sisi, seperti yang sudah diketahui otoritas pasar modal Amerika Serikat membatalkan aturan pengungkapan iklim, sementara Uni Eropa memangkas cakupan kewajiban pelaporan korporat hingga 80%.Namun bagi eksportir Indonesia, kondisi ini bukan sebuah kondisi yang menguntungkan. Sebaliknya biaya untuk kepatuhan justru diprediksi melonjak pada periode yang sama. Kontradiksi tersebut didasari akibat dari penilaian pasar global yang mulai bergeser bagaimana menilai bisnis keberlanjutan.
Global Market Shift: Bergeser dari Narasi menjadi Bukti Nyata
Pergeseran mendasar terjadi melalui berlakunya Omnibus I Directive sejak 18 Maret 2026 sebagai Directive (EU) 2026/470. Ambang kewajiban pelaporan CSRD naik menjadi 1.000 karyawan dan €450 juta pendapatan bersih, sementara kewajiban menyusun climate transition plan dihapus. Di Jerman, kewajiban pelaporan Undang-Undang Rantai Pasok (LkSG) dicabut secara retroaktif dan otoritas pengawas BAFA berhenti memeriksa laporan kepatuhan sejak 1 Oktober 2025.CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) yang memasuki fase definitif 1 Januari 2026, EUDR (EU Deforestation Regulation) hingga akhir 2026, dan EU Battery Regulation yang tetap berjalan sesuai jadwal. Polanya sudah jelas, dunia tidak lagi hanya ingin membaca laporan tahunan Anda, mereka ingin bukti data emisi dari setiap produk yang Anda kirim ke pelabuhan mereka (ekspor). Baca ulasan kami terkait dengan iso-14064 untuk cbam untuk informasi selengkapnya. Business Impact: Jarak Lebar antara Keinginan dan Pelaksanaan
Sebanyak 99% perusahaan mempertimbangkan kriteria ESG dalam investasi, tetapi hanya sepertiga yang benar-benar menjalankan program pengurangan emisi dan hanya 21% yang memiliki langkah konkret untuk emisi rantai pasok (Scope 3).Jarak ini muncul akibat dari biaya yang cukup mahal. Di Indonesia sendiri melalui Simulasi Kementerian Perindustrian atas industri baja nasional menggunakan data emisi 2019 dan volume impor 2022, beban finansial yang harus dihadapi importir akibat kebijakan CBAM mencapai €383 juta, atau sekitar €390 per ton baja.Beban tersebut tidak langsung naik sekaligus melainkan secara bertahap. Faktor CBAM hanya 2,5% pada 2026, naik menjadi 22,5% pada 2029, lalu melonjak ke 48,5% pada 2030 dan mencapai 100% pada 2034. Hambatan terbesarnya bukan teknologi, melainkan buruknya kualitas data emisi perusahaan. PwC mencatat kualitas data masih menjadi kendala utama pelaporan keberlanjutan, dan sebagian besar perusahaan belum menggunakan sistem yang memadai untuk memperbaikinya.
Business Transformation: 3 Kemampuan yang Perlu Dibangun Perusahaan
Untuk mengubah tekanan pasar menjadi peluang investasi baru, perusahaan tidak bisa sekadar menunggu dekarbonisasi jaringan listrik nasional. IESR mencatat Indonesia tidak pernah mencapai target bauran energi terbarukan selama setidaknya sembilan tahun terakhir; target 2025 bahkan direvisi turun dari 23% menjadi 17-19%. Transformasi harus dimulai dari level operasional sendiri melalui tiga kemampuan:
- Mengukur: Membangun inventarisasi emisi dengan batasan (boundary) yang jelas dan terdokumentasi. Tanpa data yang kuat, angka emisi Anda akan mudah goyah saat diuji auditor atau pembeli.
- Membuktikan: Sistem manajemen lingkungan yang menempatkan iklim, biodiversitas, dan siklus hidup produk sebagai konteks organisasi. ISO 14001:2026 terbit 15 April 2026 dengan masa transisi tiga tahun. Selengkapnya terkait dengan ulasan transisi ISO 14001:2022 untuk langkah yang efektif.
- Membuktikan: Menyiapkan verifikasi pihak ketiga. Inilah pembeda antara laporan yang hanya bersifat naratif dengan pengungkapan yang benar-benar dapat diaudit.
Investasi ini akan terbayar dalam bentuk percepatan transformasi. PwC menemukan perusahaan dengan strategi ESG operasional yang matang bertransformasi sekitar dua kali lebih cepat dan lebih menyeluruh dibanding rata-rata industrinya.
5 Sektor yang Terdampak
Tekanan global ini menciptakan benang merah: Market Pressure → Sustainability Challenge → Business Transformation → New Investment Opportunity. Berikut adalah 5 sektor di Indonesia yang memegang kunci peluang tersebut.
| | |
Energi dan Ketenagalistrikan | Batas atas emisi pelaku usaha (PTBAE) dan perluasan perdagangan karbon sektoral melalui Perpres 110/2025 | Fase II berjalan 2025–2027 |
| Lonjakan bebas listrik akibat perkembangan AI. ESDM memproyeksikan kebutuhan listrik pusat data naik dari 1,09 GW (2025) menjadi 5,22 GW (2034) | Tekanan tenant dan investor global |
Agrikultur dan Perkebunan | EUDR sekitar 10% ekspor sawit Indonesia menuju Uni Eropa, dari total nilai ekspor sawit US$25,51 miliar pada 2023. Potensi kerugian bila tidak patuh diperkirakan Rp30-50 triliun per tahun | 30 Desember 2026 (operator besar dan menengah) |
Pertambangan dan Hilirisasi Mineral | Standar ESG kini menentukan akses pasar bagi rantai pasok mineral. EU Battery Regulation mewajibkan uji tuntas nikel dan grafit dengan verifikasi notified body | Battery Passport 18 Februari 2027 uji tuntas 18 Agustus 2027 |
| Konsumsi energi fasilitas 24 jam, pengelolaan limbah B3, dan permintaan data scoope 3 dari pembeli global bagi produsen farmasi | Pedoman Green Hospital Kemenkes bersifat sukarela; tekanan pembeli |
Pertanyaannya Apakah Perusahaan Anda Termasuk di Dalamnya?
Anda tidak harus berada di kelima sektor tersebut untuk terdampak. Cukup berada di dalam rantai pasok salah satunya, maka Anda akan mulai menerima pertanyaan sulit dari mitra bisnis seperti berikut ini:
- Apakah angka emisi perusahaan Anda akan bertahan jika boundary-nya dipertanyakan auditor?
- Apakah data emisi sudah tersimpan dalam sistem, atau masih bergantung pada spreadsheet manual?
- Apakah Anda memiliki data Scope 3 dari pemasok utama?
- Apabila pembeli dari Eropa meminta bukti emisi tahun depan, berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk menyediakannya?
Jika terdapat satu saja jawaban yang belum pasti, berarti ada celah risiko yang bisa membengkak di masa depan. Pastikan perusahaan Anda memiliki sistem yang mampu mengelola, mengukur, dan membuktikan aksi keberlanjutan secara transparan.Maka sangat penting memiliki sistem untuk mengelola, mengukur, dan membuktikan kesiapan sustainability. MBO Sustain mendampingi organisasi membangun tata kelola keberlanjutan, manajemen risiko iklim, serta pelaporan yang siap diverifikasi. Diskusikan kesiapan perusahaan Anda bersama tim konsultan kami.